Rabu, Februari 10, 2010

Buku-Buku Penebus Lalai

Waktu tinggal di Yogyakarta, saya tinggal dikontrakan yang berpenghuni 10 orang. Rumahnya tidak besar tidak pula kecil. Kami sekamar berdua. Kebiasaan meminjam buku menjadi salah satu aktivitas kami untuk bertukar ilmu dan berbagi pengalaman serta untuk mendekatkan satu sama lain. Karena kami berbeda jurusan dan berbeda fakultas, tentu saja buku-buku yang menjadi perantara kami adalah buku-buku yang semuanya kami sukai.

Suatu saat salah satu temanku meminjam buku yang fungsinya untuk mengajar anak-anak TPA. Buku tersebut ku dapatkan dengan mengcopy buku teman yang sudah lumayan jadul (jaman dulu). Dua buku lawas yang berkualitas aku copy dengan tujuan agar kelak aku mempunyai anak, maka aku bisa bermain dan mengajarkan isinya untuk anak-anakku. Sambil bernyanyi riang gembira.

Temanku yang meminjam buku tadi, bilang bahwa buku-buku jadul tersebut akan digunakan untuk mengajar anak-anak TPA di tempatnya ia KKN. Ku berikan saja buku tersebut dengan tersenyum.

Waktu bergulir, hari berganti minggu, minggu berganti bulan, dan bulan berganti tahun. Kini aku alhamdulillah sudah mempunyai anak. dan aku ingin memanfaatkan buku tersebut yang belum kembali. Setelah ku kontak beberapa kali ke temanku yang ada di Yogya tadi ternyata bukunya belum kembali ke tangannya. Masih ada di teman kuliahnya.

Temanku tadi tetap berusaha untuk menghubungi temannya yang meminjam bukuku. Tapi setelah dicari-cari di kontrakannya, hasilnya nihil. Nihil entah dimana buku lawas tadi terselip diantara diktat-diktat kuliah yang berjibun.

Hmmm, akhirnya aku memutuskan untuk mengirimnya wesel agar ia membantuku untuk membelikan buku-buku anak-anak. Tapi temanku tadi menolaknya, ia akan membelikan buku anak-anak dengan uangnya sendiri. Ia bilang, 'tidak mengapa mba, buku lawas yang ku hilangkan akan ku ganti dengan buku-buku yang lain. Itu sebagai penebus lalaiku terhadap amanah buku yang ku pinjam.' Siiinggg,,, Deg!

Aku seperti mendapatkan pelajaran baru untuk bertanggung jawab. Ia mengajarkan penebusan lalai dengan sesuatu yang baru. Dan seketika aku pun menjadi teringat dengan kelalaian yang belum aku ganti. Belum aku tebus. Astaghfirullloh...

Kini buku-buku penebus lalai temanku tadi sudah berada di tanganku. Sudah aku gunakan untuk bermain dengan anakku.

Kini pelajaran ini menjadikan motivasi bagiku untuk menepati janji terhadap diri sendiri apalagi oranglain.


sumber gambar : masmediabuanapustaka.wordpress.com

Senin, Februari 08, 2010

Sayur Mayur yang Berharga

Beberapa hari yang lalu saya berkunjung ke tempat saudara yang tinggal di Kota Banjarnegara. Kota itu kecil, tenang, nyaman dan menyimpan banyak kenangan untukku. Dulu di masa anak-anak sering saya menghabiskan masa liburan sekolah ditempat saudara di Banjarnegara.

Berbagi cerita dan bertukar pengalaman, itulah yang dilakukan kami setelah hampir sepuluh tahun tidak mengunjungi mereka. Saya salut dengan ceritanya kakak perempuan saya waktu itu. Ia menceritakan tentang pengalamannya menjadi seorang petani.


Ia bertani sayur mayur di daerah pegunungan di Banjarnegara. Waktu itu ia menanam kubis, kentang, sawi, dan aneka sayur mayur lainnya. Disaat panen datang, ternyata harga perkilo untuk kubis hanya Rp 1.000, -. Kakakku hanya bisa mengelus dada. Biaya untuk menanam dan merawat pastilah tidak akan lebih besar bila kubis-kubis itu dijualnya. Hasil penjualannya tidak bisa menutupi biaya perawatannya. Jadinya rugi. Tapi hal tersebut tidak menjadikan ia gentar untuk memanen kubis-kubis itu. Ia memanennya tapi untuk orang lain.

Ya ia tetap memanennya, tapi yang memanennya para tetangga nya. Para tetangganya itu diberi kebebasan untuk memanen kubis-kubis kakak saya. Mereka boleh mengambil sepuasnya dan menjualnya sesuai dengan yang diinginkannya. Saya hanya terbengong –bengong waktu diceritakan hal tersebut..

Ia kemudian melanjutkan ceritanya. Ia lebih baik memanennya dan diberikan kepada para tetangganya untuk disedekahkan. Daripada ia memanen sendiri. Yang kemudian dijual dengan harga pasar. Kerugian yang ia dapat, dan keluh kesah yang ia lakukan.

Ia memilih menyedekahkan semua sayur mayur tersebut. Ia memilih yang terbaik. Untuk kemudian mendapatkan ganti yang berlipat –lipat. Kasih sayang Allah. Dan kasih sayang para tetangganya. Subhanalloh.


Sumber gambar: primaironline.com



Sabtu, Februari 06, 2010

Resep Mengatasi Kelelahan

Bila seharian aktivitas melelahkan, maka beristirahatlah sejenak. Menghirup udara segar di luar ruangan. Berjalan-jalan di sekitar ruangan. Ngobrol bareng teman-teman. Baca 'buku-buku ringan'. Atau barangkali browsing internet bila ada fasilitasnya.

Hmmm.. rasa lelah yang melanda diri kita adalah sesuatu yang wajar bila pekerjaan yang berjibun mengiringi langkah kaki dan ayunan tangan. Tapi untuk itu perlu juga untuk mencari penyebabnya. Bisa jadi karena lagi kurang konsentrasi, perencanaan yang kurang matang, atau bahkan belum makan.



Ada yang berpendapat bahwa bila tidak makan pagi maka akan mudah merasa lelah. Bila mereka sarapan dengan jenis makanan yang banyak mengandung karbohidrat (nasi, singkong, kentang, kue-kue dari tepung sagu/ terigu, jagung, kacang kedelai) maka sekitar jam sepuluh pagi seluruh makanan sudah terbakar dan kadar gula dalam darah menjadi demikian rendah. Sehingga mengakibatkan menurunnya konsentrasi dan produktivitas akibat timbulnya perasaan lelah.

Bila mereka sarapan pagi dengan lebih banyak makanan yang mengandung protein (daging, ikan, telur, susu, yogurt, dan jenis kacang-kacangan) ternyata mereka merasakan tubuhnya segar dan semangat sepanjang hari.

Selanjutnya dianjurkan untuk menyusun makanan sehari-hari yang seimbang. Makanan yang tepat harus mengandung :

Karbohidrat (nasi, singkong, roti, bakmi, bihun, makaroni)

Protein (50-100 g sehari daging /ikan dan telur 2-3 kal dalam seminggu)

Lemak 60 – 80 g (sebaiknya dalam bentuk minyak kedelai, jagung atau kebang matahari, hindari minyak kelapa atau lemak mentega berasal dari hewan agar tidak terkena resiko kolesterol tinggi.)

Serat gizi (sayur mayur kl 250 g dan buah –buahan)

Minum dengan air yang cukup, seseorang membutuhkan kurang lebih 1,5 hingga 3 liter air dalam sehari.


Tapi itu semua tergantung pola hidup kita masing-masing.... bisa jadi apa yang saya tulis diatas tidak tepat untuk orang yang pola hidupnya sederhana, makan sederhana, tapi ia rutin melakukan aktivitas berjalan kaki setiap pagi. Hmmm jadi ingat dengan nenek saya, yang setiap pagi berjalan kaki ke sawah, pulang sore hari, makan sayur mayur hasil olahan sawahnya, pola hidup sederhana, ia sampai saat ini masih sehat segar bugar. Seperti tidak pernah merasa lelah berjibaku dengan tanah dan tanaman...

Jadi sekali lagi untuk mengatasi lelah ada banyak cara sesuai dengan kondisi kita... ^_^


Referensi : Penyembuhan Alamiah, Dharmo Husodo. Al Hikmah : Surakarta
sumber gambar : siapapunsuka.blogspot.com

Senin, Februari 01, 2010

Apakah Ia Suka Ngempeng?

Hmmm lagi –lagi tentang anak. Ya karena akhir-akhir ini anak kami seringkali mengisap jari tangannya, paling sedikit dua jari. Kalau beberapa minggu yang lalu hanya jari tangannya. Kini baju yang dipakainyapun di tarik keatas dan di kenyutnya. Setiap benda yang dipegangnya maka larinya kemulutnya.

Ketika ku pelajari lebih lanjut tentang perilaku ini ternyata ia ingin minum ASI, belum kenyang, dan ia tidak diperhatikan padahal ia ingin diajak bermain.

Ketika ku coba mengenalkan empeng, sebagai pengganti jari. Ia menolakknya, ku bersabar untuk terus memperkenalkan enyutan yang lain ini. Tapi ia tetap menolaknya hingga akhirnya aku sendiri yang harus cekatan untuk memenuhi keinginannya minum ASI.


Akhirnya aku mempelajari tentang ’ngempeng’. Mengapa bayi suka ’ngempeng’ sementara sebagian lainnya tidak? Ada dua titik pandang yang menjadi perdebatan para ahli.

Sigmund Freud, bapak psikoanalisa, merasa bahwa bayi memiliki kebutuhan naluriah untuk menghisap sesuatu. Setiap bayi membutuhkan suatu jumlah tertentu dalam kegiatan mengisap. Apabila kegiatan mengisap yang diperoleh dari menyusu baik dari ASI maupun dari susu botol tidak mencukupi jumlah itu, maka si bayi akan mulai mengisap apa saja – jempol, dot, ujung bantal/ guling/ selimut. Atau apa saja, sekarang atau nanti supaya kebutuhan mengisap itu terpenuhi.

Pandangan dari para profesional yang percaya bahwa alam memberikan sifat mengisap pada bayi adalah semata-mata untuk mendapatkan makanan dan bertahan (merasa aman), dan mengisap untuk kegunaan selain mendapatkan makanan merupakan suatu kebiasaan yang dipelajari. Jika bayi tidak diajari atau dibiarkan untuk mengisap suatu benda, maka mereka tidak akan belajar untuk melakukannya, dan mereka tidak akan sakit karenanya.

Jadi apakah anakku suka ngempeng, dan menjadikan nya sebagai kebutuhan? Tidak. Dan aku harus menyakinkan diriku bahwa anakku hanya belum kenyang ketika minum ASI. Dan aku tidak ingin mengajarinya atau membiarkannya mengisap sesuatu agar ia tidak suka dengan ngempeng. Bismillah...

Referensi : Perkembangan Anak Anda di Tahun Pertama
Robert B. McCall, Ph.D & Virginia W. Pomeranz, M.D
sumber gambar : kayadarirumah.com



Minggu, Januari 31, 2010

Pelajaran Berharga Dari Penyakit Kuning Anakku

Terkadang kita tidak bisa melihat sesuatu dengan mata hati yang paling dalam. Sehingga kejadian yang menimpa kita saat itu tidak bisa diambil hikmahnya. Yang ada hanyalah keluh kesah, menggerutu, berputus asa, menyalahkan oranglain, dan yang lebih buruk lagi menyalahkan Allah. Astaghfirulloh

Ketika melahirkan anak pertama, kami satu minggu di rumah sakit. Padahal waktu itu adalah detik-detik terakhir bulan ramadhan di tahun 1430H. Pengennya menghabiskan moment ramadhan dengan mengejar malam Laelatul Qodr, beritikaf di masjid atau dirumah dengan khusyu', dan mengejar targetan khatam Al Qur'an. Tapi Allah berkehendak lain. Sang buah hati yang diperkirakan lahir satu minggu setelah ied fitri, tapi ia terlahir seminggu sebelum ied fitri. Subhannalloh...


Saat itu, waktu untuk perawatan pasca persalinan di rumah sakit tempat melahirkan anak kami di beri jatah tiga hari. Tapi ternyata anak kami mempunyai penyakit kuning dengan kadar bilirubin 14,9. Keputusan dokter 'harus disinar biru selama 6x dalam waktu tiga hari'. Bayi boleh ditinggal dirumah sakit dan sang ibu boleh pulang dan menjenguk ketika tidak sedang dikotak inkubator. Sebagai orang tua baru, perasaan kami sangat sedih sekali. Menangis..menangis..dan menangis, untuk membuat keputusan apakah memberi izin agar pihak rumah sakit menahan dan merawat anakkku kembali.

Akhirnya setelah dipertanyakan lebih dalam efek dari penyakit kuning yang kadar bilirubinnya tidak diturunkan. Maka kami melepaskan anak kami untuk disinar dan kami tetap membersamainya hingga ia selesai diinkubator.

Kata dokter, kadar bilirubin tinggi setelah bayi lahir dikarenakan waktu mengandung, kadar gula sang ibu kurang. Ya kalau berlebihan tidak baik, dan kalau kurangpun tidak baik. Disisi lain, beberapa jam setelah dilahirkan sang bayi kurang cairan, (ASI yang kurang lancar disaat pertama melahirkan, membuatku bersikukuh untuk tetap memberinya ASI eksklusif, padahal Sang Bayi membutuhkan cairan banyak, dan pihak rumah sakit bersedia memberikan susu formula, tapi aku menolaknya) dan tidak dijemur. Maka hal inilah yang mengakibatkan bilirubin tinggi. Dan bila tidak diturunkan (bantuan awal) cara disinari biru, maka dapat mengakibatkan keterbelakangan mental.

Detik-detik menjelang bayi kami di inkubator, masih sempat disusui, ketika petugas datang, ia tersenyum manis kepadaku, seakan mau berkata 'Ummi, jangan khawatir, aku akan kembali kepangkuan ummi'. Oh Robbi....

Ia ditutup matanya, menggunakan kain putih untuk menghindari sinar biru. Ia ditelanjangi, hanya menggunakan pampers. Ia tertidur lelap dalam posisi miring. Ya Rahman, itukah anakku di kotak inkubator bersinar biru? ia berjuang sendiri disaat usianya baru tiga hari??!!

Satu minggu, kami beritikaf di rumah sakit. Satu minggu tali pusarnya puput di rumah sakit. Satu minggu pula kami belajar mengganti popok dan bercanda dengannya dirumah sakit. Satu minggu pertama sebagai orang tua baru, kami habiskan di rumah sakit di saat menjelang ied fitri.

Kalau mengenang, 'itikaf dirumah sakit', sungguh menjadi moment berharga sebagai orang tua baru. Bersyukur adalah jawaban selanjutnya.

Alhamdulillah kini ia telah sehat kembali. Pertambahan BB dan panjangnya, alhamdulillah dalam taraf bayi dengan gizi baik. Kini, Ia selalu tersenyum manis ketika bercanda. dan ketika tertidur. Bahkan ketika aku merasa kesal dengan ulahnya yang tidak mau berhenti bermain di tengah malam, ia tetap tersenyum manis kepadaku. Seakan mau berkata..'Ummi, aku masih ingin bermain. Ummi yang sabar ya..'

Aku sungguh tidak sanggup menatap matanya yang merajuk ketika permintaaannya tidak dipenuhi. Ketika hanya diam dan kesal yang aku berikan. Tapi ia tetap menatapku, dan memberikan senyumnya kepadaku. Ya Allah, subhanalloh...

Kini, ia telah tertidur lelap kembali karena semalam ia bergadang sendiri...

Oh anakku, anakku.. maafkan kami ya, belum bisa menjadi orang tua yang baik bagimu...
Oh anakku, semoga senyum ikhlasmu senantiasa menghiasi wajahmu...
Oh anakku, jadilah engkau seorang yang ikhlas, seorang yang pemberani, seorang yang tahan uji...
Oh anakku, ummi sayang kepadamu...
Oh anakku, abi sayang kepadamu..

Ya Rahman, sayangilah anak kami, berkahilah ia, lindungilah ia dari syetan, limpahkan lah taufikMU agar ia tunduk dan taat kepadaMU, dan karuniakanlah kami bakti anak-anak kami. amin

Sumber gambar : problemamuslim.wordpress.com








Senin, Januari 25, 2010

Bonek

Hari ini berita di layar kaca ramai dengan berita bonek.. bocak nekat.. atau bondo nekat.. atau apalah. Yang jelas baru kali ini aku tahu kepanjangannya. Bonek, mereka adalah suporter sepakbola. Bonek, mereka berasal dari Surabaya.

Hati ini miris ketika melihat tawuran warga melawan kereta api yang sedang berjalan. Di Solo. Mereka mengasumsikan kalau bonek-bonek yang menuju Surabaya ada didalamnya.

Hati ini miris ketika bonek-bonek itu menghambur ke lapangan ketika kesebelasan yang mereka dukung kalah bertarung. Sampai akhirnya mereka melakukan apasaja di lapangan. Sampai akhirnya para polisi datang, sampai akhirnya anjing-anjing itu mengejar mereka danmenggigitnya, sampai akhirnya berjatuhanlah korban-korban pendukung dan penonton sepakbola.

Hmmm... sampai kapankah ini akan berakhir??? kita tidak tahu. Perlawanan bonek di Solo jadi seperti perlawanan antar suku. Bonek yang arek Suroboyo dan warga Solo yang suku Jawa.

Kalau melihat pertandingan sepakbola, bola yang satu diperebutkan oleh 20 orang yangberlari kesana kemari. Sedangkan ini, bonek vs warga yang tidak suka dengan perilaku mereka.

Hmmm... sebuah sarana untuk mengevaluasi diri juga, agar tidak terlalu berlebihan dalam mencintai sesuatu. Agar selalu berpikir dan bersikap positiv...

---------------------------------------------------------------------------------------------
Bagi teman-teman yang ingin bisa bahasa inggris (mungkin telah mencari kemana-mana melalui Google), saya merekomendasikan kursus bahasa inggris online full conversation. Jika ingin tahu pengalaman saya setelah mengikuti kursus ini, bisa baca artikel review saya dengan mengklik link kursus bahasa inggris gratis ini.
---------------------------------------------------------------------------------------------

sumber gambar :profiles.friendster.com
 

Graco Pack 'n Play Playard Support To Kisah Berhikmah, Motivasi, Download Gratis Designed by Free Blogger Template